Sifat Munafik (Pribadi munafik) kerap kali tidak disadari oleh seseorang. Mereka tidak sadar kalau sebenarnya dalam dirinya telah memelihara tanaman penusnah yang sangat berbahaya dan membahayakan. Bukan hanya ini, tidak jarang mereka semakin hari semakin memupuk tanaman tersebut sehingga tumbuh dan berkembang.
Salah satu contoh dari hal diatas adalah berpura-pura mencintai lain jenis padahal dusta, bohong hanya dalam rangka ingin mewujudkan niat yang tersembunyi. Bisa jadi memiliki niat yang kurang baik terhadap pasangan sehingga tertutupi kata dan kalimat manis yang diucapkannya sehingga pasangan pun meng-ya-kannya.
Tidak jarang kalau kita tanyakan kepada sebagian orang yang kita kenal dengan pengakuannya mereka akan menjawab BUKAN atas dasar CINTA melainkan harta, tahta atau rupa. sehingga kalau ketiga hal tersebut sudah terpenuhi, maka orang tersebut (subyek) akan langsung meninggalkan obyeknya, mujur kalau masih sempat mengucapkan selamat tinggal.
Pribadi Munafik tidak usah dipelihara. Hanya lantaran niat yang tidak benar, banyak orang menerlantarkan makna kesucian cinta. menyamaratakan makna demi tercapainya nafsu materialisnya. Alangkah lebih baiknya kalau kita memang ada rasa cinta katakan jangan dipendam. Karena cinta bukan untuk dipendam atau disembunyikan melainkan untuk dirasakan dan dijalani.
Ada hal yang harus kita ingat dalam kehidupan cinta, CINTA bukanlah sebuah permainan yang harus ada kalah menangnya. Masalah kalah menang dalam bercinta bukan permainan tetapi hiasan dari makna firman Allah, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu selalu berpasang-pasangan. Ada suka ada duka, ada tangis ada tawa, begitu selanjutnya.
Jadi katakanlah cinta kalau memang cinta, jangan mengatasnamakan yang lain dengan cinta. Berani mengatasnamakan yang lain dengan cinta, sama halnya dengan bersiap-siap menghadapi tangtangan hidup selanjutnya.
Dalam “studi kasus” terhadap seseorang, supaya lebih mengenal dia, manakah yang lebih efektif: [1] perhatikan isi rumahnya, amati lingkungan pergaulannya, kenali latar belakang pendidikannya, telusuri bacaannya, cari keterangan dari saudara dan temannya, dan berdiskusi saat silaturahmi; ataukah [2] menjalin hubungan cinta yang mendalam dengan dia, yang mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan, dan kerinduan, di samping mengandung persiapan-persiapan untuk menempuh masa depan bersama, serta menyelinginya dengan tanda-tanda cinta yang manis dan makruf, seperti tukar-pikiran dan tukar-bantuan?
Nah, pengumpulan data pada cara nomor 1 rupanya menggunakan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara saja. Sedangkan pada cara nomor 2, ketiga metode tersebut digunakan pula, tetapi yang diutamakan adalah metode “partisipasi aktif” (interaksi yang mendalam). Dalam studi kasus, manakah yang lebih efektif: cara nomor 1 ataukah cara nomor 2?
Apabila Anda sudah mendalami metodologi penelitian kualitatif, tentulah Anda sudah mengerti dan sangat yakin bahwa cara nomor 2-lah yang lebih efektif untuk lebih mengenal seseorang yang diteliti. (Lihat, misalnya, buku karya Prof. Dr. S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif (Bandung: Tarsito, 1992), terutama Bab IV, “Metode Pengumpulan Data”.)
Cara nomor 1 (”perhatikan isi rumahnya ….”) tadi itu terdapat dalam model taaruf-pranikah ala Abu al-Ghifari. (Siapa dia, identitasnya tidak jelas.) Ia menguraikannya di bukunya, Pacaran yang Islami Adakah (Bandung: Mujahid Press, 2004), sub-bab III C. Model-model taaruf-pranikah lainnya, yang dikemukakan oleh sejumlah aktivis dakwah yang sepaham dengannya, tampaknya juga hanya menggunakan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara saja. Sampai saat ini, saya belum pernah menjumpai model taaruf-pranikah yang menganjurkan penggunaan metode “partisipasi-aktif” (interaksi yang mendalam).
Adapun cara nomor 2 (”menjalin hubungan cinta yang mendalam ….”) dikemukakan oleh Abdul Halim Abu Syuqqah (seorang ulama Ikhwanul Muslimin) dalam bukunya, Kebebasan Wanita, Jilid 5 (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 75-77. Metode “partisipasi-aktif” (interaksi yang mendalam) ini tampak jelas pula dalam model percintaan pranikah ala Ibnu Hazm al-Andalusi, seorang ulama besar di Abad Pertengahan. Cara ini tersirat pula dalam model percintaan pranikah ala Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, seorang ulama besar yang tentu tak asing lagi bagi kita. Inilah model-model pacaran islami.
Jadi, untuk lebih mengenal si dia, pacaran islami itu lebih efektif daripada taaruf-pranikah.
Nah, pengumpulan data pada cara nomor 1 rupanya menggunakan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara saja. Sedangkan pada cara nomor 2, ketiga metode tersebut digunakan pula, tetapi yang diutamakan adalah metode “partisipasi aktif” (interaksi yang mendalam). Dalam studi kasus, manakah yang lebih efektif: cara nomor 1 ataukah cara nomor 2?
Apabila Anda sudah mendalami metodologi penelitian kualitatif, tentulah Anda sudah mengerti dan sangat yakin bahwa cara nomor 2-lah yang lebih efektif untuk lebih mengenal seseorang yang diteliti. (Lihat, misalnya, buku karya Prof. Dr. S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif (Bandung: Tarsito, 1992), terutama Bab IV, “Metode Pengumpulan Data”.)
Cara nomor 1 (”perhatikan isi rumahnya ….”) tadi itu terdapat dalam model taaruf-pranikah ala Abu al-Ghifari. (Siapa dia, identitasnya tidak jelas.) Ia menguraikannya di bukunya, Pacaran yang Islami Adakah (Bandung: Mujahid Press, 2004), sub-bab III C. Model-model taaruf-pranikah lainnya, yang dikemukakan oleh sejumlah aktivis dakwah yang sepaham dengannya, tampaknya juga hanya menggunakan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara saja. Sampai saat ini, saya belum pernah menjumpai model taaruf-pranikah yang menganjurkan penggunaan metode “partisipasi-aktif” (interaksi yang mendalam).
Adapun cara nomor 2 (”menjalin hubungan cinta yang mendalam ….”) dikemukakan oleh Abdul Halim Abu Syuqqah (seorang ulama Ikhwanul Muslimin) dalam bukunya, Kebebasan Wanita, Jilid 5 (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 75-77. Metode “partisipasi-aktif” (interaksi yang mendalam) ini tampak jelas pula dalam model percintaan pranikah ala Ibnu Hazm al-Andalusi, seorang ulama besar di Abad Pertengahan. Cara ini tersirat pula dalam model percintaan pranikah ala Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, seorang ulama besar yang tentu tak asing lagi bagi kita. Inilah model-model pacaran islami.
Jadi, untuk lebih mengenal si dia, pacaran islami itu lebih efektif daripada taaruf-pranikah.